Hakikat Iman
Ketika ada orang yg berusaha memegang teguh nilai-nilai agama terlontarlah
ucapan orang lain kepadanya: “Tidak usah sok suci kamu. Iman itu yg penting di
dlm
hati.” Ilustrasi ini sangat mungkin pernah kita
alami. Benarkah demikian? Cukupkah utk dikatakan sebagai orang yg beriman hanya
dgn keyakinan yg ada di dlm hati?
Pembahasan seputar iman adl sangat penting sebab iman menjadi satu istilah
yg syar’i dan agung di dlm syariat. Secara bahasa iman berarti pembenaran yg
pasti dan tdk terkandung keraguan di dalamnya. Pembenaran yg dimaksud dari iman
ini meliputi dua perkara yaitu membenarkan segala
berita
perintah dan larangan serta melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-
larangan-Nya.
Adapun secara istilah Ahlus
Sunnah wal Jamaah
berpemahaman bahwa iman adl ucapan dgn lisan keyakinan dgn hati dan amalan dgn
anggota badan. Sebagian mereka ada pula yg mendefinisikan iman dgn ‘ucapan dan
amalan’ atau ‘ucapan amalan dan niat’ namun semua pengertian tentang iman ini
tidaklah saling bertentangan.
Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mereka terkadang mengatakan bahwa iman
adl ‘ucapan dan amalan’ atau iman adl ‘ucapan amalan dan niat’ terkadang juga
mengatakan bahwa iman adl ‘ucapan amalan niat dan mengikuti As-Sunnah’ tapi
adakala mengatakan bahwa iman itu ‘ucapan dgn lisan keyakinan dgn hati dan
amalan dgn anggota badan’ dan semua makna iman di atas adl benar adanya.”
Beliau melanjutkan: “Sesungguh yg mengatakan bahwa iman adl ‘ucapan dan amalan’
mk yg dimaksud adl ucapan hati dan lisan kemudian amalan hati dan anggota
badan. Adapun yg menambah dgn
kata ‘i’tiqad ’ adl krn
memandang bahwa ucapan itu tdk dapat dipahami dari kecuali ucapan zhahir atau
khawatir akan dipahami seperti itu mk ditambahlah kata i’tiqad dlm hati.
Sementara yg menyatakan iman sebagai ‘ucapan amalan dan niat’ dikarenakan suatu
amalan tidaklah dapat dikatakan sebagai amalan kecuali dgn ada niat. Karena itu
ditambahlah kata niat padanya. Kemudian yg menambahkan kata ‘mengikuti
As-Sunnah’ ke dlm makna iman krn hal tersebut tidaklah dicintai oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala kecuali dgn mengikuti As-Sunnah.”
Iman jika disebutkan secara mutlak dlm kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
Rasul-Nya mk akan mencakup penunaian atas hal-hal yg diwajibkan dan
meninggalkan perkara-perkara yg haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللهِ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِي كَثِيْرٍ
مِنَ اْلأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ اْلإِيْمَانَ
وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ
وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَ
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia
menuruti kamu dlm beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan.
Tetapi Allah menjadikan kamu
cinta kapada keimanan dan
menjadikan iman itu indah dlm hatimu serta menjadikan kamu benci kepada
kekafiran kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang2 yg mengikuti jalan yg
lurus.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ
لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُوْلُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ
الْمُفْلِحُوْنَ
“Sesungguh jawaban orang2 mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan
Rasul-Nya agar Rasul menghukum di antara mereka ialah ucapan ‘kami mendengar
dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang2 yg beruntung.”
Dari sini nampak jelas ada keterkaitan yg kuat antara iman dgn amal. Karena itu
di dlm Al-Qur`an Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menguraikan persoalan ini. Di
antara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا
سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ
“Sesungguh orang2 yg beriman dgn ayat-ayat Kami adl orang2 yg apabila
diperingatkan dgn ayat-ayat mereka menyungkur sujud dan bertasbih memuji Rabb
sedang mereka tdk menyombongkan diri.”
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ
يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ
أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ
“Sesungguh orang2 yg beriman hanyalah orang2 yg beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya kemudian mereka tdk ragu-ragu dan mereka berjihad dgn harta dan jiwa
mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang2 yg benar.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
لاَ يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ
يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَاللهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِيْنَ.
إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ
اْلآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوْبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُوْنَ
“orang2 yg beriman kepada Allah dan hari kemudian tdk akan meminta izin
kepadamu utk berjihad dgn harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang2 yg
bertakwa. Sesungguh yg akan meminta izin kepadamu hanyalah orang2 yg tdk
beriman kepada Allah dan hari kemudian dan hati mereka ragu-ragu krn itu mereka
selalu bimbang dlm keraguannya.” . Dan ayat-ayat
lainnya.
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa iman yg diserukan Allah Subhanahu wa
Ta’ala kepada hamba-Nya adl
Islam yg Allah Subhanahu wa
Ta’ala jadikan sebagai dien-Nya. Ini menunjukkan ada keterkaitan pula antara
iman dgn Islam.
Al-Imam Az-Zuhri rahimahullahu dan yg lain dari kalangan Ahlus Sunnah
mengatakan: “Amal masuk dlm kategori iman sedangkan Islam adl bagian dari
iman.”
Iman Islam dan Amal
Iman Islam dan amal shalih seringkali penyebutan dibarengkan dlm Kitabullah dan
Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang iman juga disatukan
penyebutan dgn orang- orang yg berilmu. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang2 yg
berilmu masuk dlm jajaran orang2 yg beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
إِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْقَانِتِيْنَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِيْنَ وَالصَّادِقَاتِ
وَالصَّابِرِيْنَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِيْنَ وَالْخَاشِعَاتِ
وَالْـمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْـمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِيْنَ وَالصَّائِمَاتِ
وَالْحَافِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا
وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيْمًا
“Sesungguh laki2 dan perempuan yg
muslim laki2 dan
perempuan yg mukmin laki2 dan perempuan yg tetap dlm ketaatan laki2 dan
perempuan yg benar laki2 dan perempuan yg sabar laki2 dan perempuan yg khusyu’
laki2 dan perempuan yg bersedekah laki2 dan perempuan yg berpuasa laki2 dan
perempuan yg memelihara kehormatan laki2 dan perempuan yg banyak menyebut nama
Allah Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yg besar.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيْهَا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ. فَمَا وَجَدْنَا
فِيْهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Lalu Kami keluarkan orang2 yg beriman yg berada di negeri kaum Luth itu.
Dan Kami tdk mendapati di negeri itu kecuali sebuah
rumah
dari orang2 yg berserah diri .”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam adl engkau bersaksi bahwa
tdk ada ilah yg berhak diibadahi kecuali Allah dan
Muhammad
adl utusan Allah mendirikan shalat menunaikan zakat berpuasa Ramadhan dan haji
ke Baitullah jika engkau telah
memiliki kemampuan utk
itu.”
Beliau bersabda lagi: “Iman adl engkau beriman kepada Allah
malaikat-malaikat-Nya kitab-kitab-Nya rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta
beriman kepada qadar yg baik dan buruknya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ
الْبَرِيَّةِ
“Sesungguh orang2 yg beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adl
sebaik-baik makhluk.”
وَقَالَ الَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَاْلإِيْمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي
كِتَابِ اللهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ
كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ
“Dan berkata orang2 yg diberi ilmu pengetahuan dan keimanan : ‘Sesungguh
kamu telah berdiam menurut ketetapan Allah sampai hari berbangkit mk inilah
hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tdk meyakininya’.”
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang2 yg beriman di antaramu dan orang2 yg diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
وَالرَّاسِخُوْنَ فِي الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ
رَبِّنَا
“Dan orang2 yg mendalam ilmu berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yg
mutasyabihat semua itu dari sisi Rabb kami’.”
لَكِنِ الرَّاسِخُوْنَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُوْنَ يُؤْمِنُوْنَ
بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ
“Tetapi orang2 yg mendalam ilmu di antara mereka dan orang2 mukmin mereka
beriman kepada apa yg telah diturunkan kepadamu dan apa yg telah diturunkan
sebelummu.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Ketika kata iman dan
Islam menyatu penyebutan mk Islam adl amalan-amalan yg dzahir seperti dua
kalimat syahadat shalat zakat dan shaum serta haji dan yg lainnya. Sedangkan
iman adl apa yg ada dlm hati seperti beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
malaikat-malaikat-Nya kitab-kitab-Nya rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta yg
lainnya.”
Adakala kata iman disebutkan tersendiri tanpa dibarengi kata Islam amal shalih
maupun kata-kata lainnya. dlm keadaan ini mk secara otomatis telah masuk ke dlm
Islam dan amal shalih. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu
ada 63 atau 73 cabang. Yang paling afdhal adl ucapan Laa ilaha illallah dan yg
paling rendah adl menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adl cabang dari
iman.”
Seluruh hadits yg menyebutkan amalan-amalan yg baik sebagai bagian dari iman
menunjukkan akan hal ini.
Perbedaan Iman dan Islam
Islam adl dien. Dan kata “dien” merupakan bentuk mashdar1 dari asal kata دَانَ
– يَدِ يْنُ yg bermakna tunduk dan merendah.
Dien Islam yg Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai dan utus dengan para Rasul adl
penyerahan diri hanya kepada-Nya saja. mk landasan di dlm hati ialah ketundukan
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn beribadah hanya kepada-Nya saja tanpa
kepada yg lain. Barangsiapa menyembah-Nya dan menyembah ilah yg lain tidaklah
menjadi seorang muslim. Dan barangsiapa enggan menyembah-Nya bahkan
menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya mk tidaklah menjadi seorang
muslim. Inti Islam adl berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tunduk
kepada-Nya dan beribadah hanya kepada-Nya. Kemudian pada prinsip Islam adl
bagian dari bab amalan yakni amalan hati dan anggota badan.
Adapun iman landasan adl tashdiq iqrar dan ma’rifat . Iman adl bagian dari
ucapan hati yg mencakup amalan hati dan landasan adl tashdiq. Sedangkan amal
adl perkara yg mengikutinya.
Oleh sebab itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan kata ‘iman’ dgn
keimanan hati dan ketundukan yakni beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
malaikat-malaikat-Nya kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. Sedangkan kata
‘Islam’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tafsirkan dgn penyerahan/penerimaan
yg khusus yakni terhadap bangunan-bangunan yg lima. Demikianlah dlm seluruh
pernyataan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menafsirkan iman dgn itu
dan Islam dgn ini.
Iman Bertambah dan Berkurang
Pemahaman tentang iman bertambah dan berkurang adl pemahaman Ahlus Sunnah Wal
Jamaah secara utuh. Bahkan Al-Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullahu menegaskan
bahwa ahli hadits dan fiqih telah sepakat menetapkan bahwa iman adl ucapan dan
amalan tdk ada amalan kecuali dgn niat dan bahwa iman itu bertambah dan
berkurang.
Al-Imam Al-Barbahari rahimahullahu dlm Syarhus Sunnah mengatakan: “Barangsiapa
berkata bahwa iman adl ucapan dan amalan bertambah dan berkurang mk ia telah
terbebas dari keyakinan irja` secara menyeluruh.”
Dalil-dalil yg menerangkan bertambah dan berkurang iman sangatlah banyak baik dari
Al-Qur`an As-Sunnah ataupun ucapan para salaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِي قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ
لِيَزْدَادُوا إِيْمَانًا مَعَ إِيْمَانِهِمْ
“Dia-lah yg telah menurunkan ketenangan ke dlm hati orang2 mukmin supaya
keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka .”
وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلاَّ مَلاَئِكَةً وَمَا جَعَلْنَا
عِدَّتَهُمْ إِلاَّ فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِيْنَ
أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ آمَنُوا إِيْمَانًا ..
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat dan orang
kafir supaya orang2 yg diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yg
beriman bertambah imannya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
“Adapun orang2 yg beriman mk surat ini menambah iman sedang mereka merasa
gembira.”
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُوْنَ
“Sesungguh orang2 yg beriman itu adl mereka yg apabila disebut nama Allah
gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya
bertambahlah iman mereka dan kapada Rabb-nyalah mereka bertawakal.”
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُوْنَ اْلأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا
اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَدَقَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلاَّ
إِيْمَانًا وَتَسْلِيْمًا
“Dan tatkala orang2 mukmin melihat golongan-golongan yg bersekutu itu mereka
berkata: ‘Inilah yg dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah
Allah dan Rasul-Nya.’ Dan yg demikian itu tidaklah menambah kepada mereka
kecuali iman dan ketundukan.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa di antara kalian yg melihat
kemungkaran hendak ia ubah dgn tangannya. Jika tdk mampu mk dgn lisan dan jika
tdk mampu mk dgn hati dan itu adl selemah-lemah iman.”
Dari ‘Umair bin Habib berkata: “Iman itu bertambah dan berkurang.” Ia ditanya:
“Apa tanda bertambah dan berkurangnya?” Beliau menjawab: “Jika kita ingat Allah
k lalu memuji dan menyucikan-Nya mk itulah bertambahnya. Dan bila kita lalai
melupakan dan tdk menghiraukan-Nya mk itulah tanda berkurangnya.”
Demikian uraian singkat mengenai hakikat iman semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala
menganugerahi kita semua kebenaran iman dan kekokohannya.
Wallahu a’lam.
1 Silakan lihat pembahasan mudah tentang mashdar dlm buku kami Pengantar
Mudah Belajar Bahasa Arab.
Sumber:
www.asysyariah.com